GURU MODEL ANTI KORUPSI (GMAK)



Apakah para pelajar di Indonesia bahagia? Mungkin sebagian besar orang menyatakan mereka tidak bahagia. Pendapat ini akan muncul bila melihat maraknya tawuran pelajar, kurangnya fasilitas sekolah, dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Sebuah hasil survey yang diselenggarakan OECD pada tahun 2013, memberikan hasil yang cukup mengejutkan. Survey tentang kebahagiaan pelajar dunia di 65 negara/kota menyatakan bahwa pelajar Indonesia paling bahagia sedunia dan pelajar Korea Selatan paling tidak bahagia (http://www.merdeka.com/peristiwa/pelajar-indonesia-paling-bahagia-sedunia.html).  Dalam salah satu bagian pertanyaan di kategori 'keterikatan, motivasi, dan kepercayaan diri' 510.000 pelajar yang disurvei ditanyakan mengenai 'sense of belonging' mereka terhadap sekolah. Jawaban untuk pertanyaan 'Saya dengan mudah mendapat teman di sekolah' dan 'Saya merasa bahagia di sekolah', 96% pelajar Indonesia yang disurvei menjawab setuju.
Hasil ini merupakan sebuah masukan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Kebahagiaan para pelajar berada di sekolah ini menunjukkan bahwa bangsa kita masih mempunyai potensi untuk maju dan berkembang.
Ada pula survei internasional terhadap pelajar yang hasilnya kebalikan dari hasil di atas. Survei yang dilakukan PISA dan TIMMS memberikan hasil bahwa Indonesia sejak tahun 2000 selalu berada di urutan hampir terbawah dari seluruh Negara peserta survey (peringkat ke-38 dari 41 peserta). Survei tentang kemampuan literasi, sains dan matematika ini sangat antagonis dengan hasil survei tentang kebahagiaan pelajar. Bukankah anak yang berbahagia di sekolah biasanya memiliki kompetensi yang baik? Mengapa para pelajar Indonesia berbahagia di sekolah namun tidak memiliki kompetensi yang diharapkan?
Keadaan seperti ini memiliki banyak konsekuensi yang sekarang kita rasakan bersama. Ujian Nasional (UN) yang merupakan hajatan tahunan yang harus dihadapi para pelajar Indonesia selalu dinanti dengan perasaan cemas dan galau. Padahal UN sendiri bersifat evaluatif, hanya menguji yang sudah pernah dipelajari. Jika para pelajar sudah kompeten dalam pelajarannya selama ini, seharusnya mereka tidak perlu khawatir terhadap UN bukan? Kejadian yang sangat memalukan juga kita saksikan dari tingkah polah para pelaku pendidikan dalam ‘mengakali’ nilai UN ini. Ada pelajar yang mencari KJ (kunci jawaban) secara kelompok, ada sekolah yang mengkoordinir KJ untuk peserta ujian (istilahnya, ‘tim sukses’), dan masih banyak lagi kejadian ‘aneh tapi nyata’ yang terjadi pada saat UN. Betapa mirisnya dunia pendidikan kita, bila ada oknum guru yang justru mengkoordinir siswa untuk melakukan kecurangan pada saat ujian. Tetapi,  karena demi masa depan siswa hal ini terjadi di lingkungan kita.
Beberapa hari yang lalu (17/5/2015) di Sulawesi Selatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengemukakan tiga kriteria guru ideal. Menurut beliau, guru ideal harus memiliki integritas untuk memberikan keteladanan kepada para siswa. Selain itu, beliau menambahkan guru harus mampu mengajar dengan baik dan menyenangkan sehingga bisa memaksimalkan potensi anak dalam proses belajar mengajar. Yang terakhir seorang guru harus mampu membangun mimpi anak didiknya. Bila dikembalikan kepada lingkungan kita, sudahkah guru-guru kita memiliki kriteria ini? Apakah guru menjadi teladan para siswanya? Bagaimanakah dengan guru yang menjadi ‘tim sukses’ UN, apakah mereka patut menjadi teladan dalam kejujuran?
Karakter memang tidak mudah ditumbuhkan dalam jiwa seseorang. Di negara-negara seperti Finlandia, Jepang dan Korea Selatan sekolah menanamkan karakter tanggung jawab, sabar, mau antri, jujur, berbagi dan sebagainya pada tahun-tahun pertama pendidikan seorang anak dari usia PAUD/TK sampai SD. Pendidikan nilai ini diberikan sebagai prioritas sebelum para pelajar mengenal matematika dan sains. Berbeda sekali dengan penerapan di Indonesia. Hasil pendidikan di Indonesia adalah kecerdasan tanpa karakter. Sulit bagi rakyat Indonesia mendapatkan pejabat cerdas yang berkarakter jujur dan bertanggung jawab. Media massa kita telah mempublikasikan para pejabat, yang pastinya orang berpendidikan, tetapi terjerat dan didakwa melakukan tindak korupsi.
Berbincang tentang pendidikan kejujuran, maka berhulu pada guru yang berkarakter. Mencari guru berintegritas, sebenarnya dapat dilakukan melalui penilaian kepala sekolah dan pengawas atau penilaian siswa. Guru berintegritas, pastilah anti korupsi. Mengapa? Karena guru berintegritas, satu kata dan perbuatannya.
Dalam kegiatan sehari-hari, guru dengan integritas tinggi, disiplin dan bertanggung jawab dalam mengajar. Dia berusaha selalu tepat waktu untuk hadir di sekolah, untuk hadir di kelas dan bertanggung jawab dalam memberikan pengajaran yang berkualitas pada siswanya. Jadi, guru ini tidak akan mendapat predikat ‘korupsi waktu’.
Guru Anti Korupsi juga akuntable dan transparan dalam penilaian pembelajaran. Dia memberitahukan cara dan metode penilaian dalam pembelajarannya serta kriteria penilaian yang jelas. Semua siswa dapat mengetahui dan mengakses nilainya masing-masing dan mengetahui kelemahannya. Siswa juga dapat memperoleh informasi yang jelas tentang cara pengolahan nilai sehingga diperoleh nilai Raport. Guru yang akuntable dan transparan seperti ini tentu akan memudahkan siswa dalam belajar dan mencapai tujuan-tujuan pembelajarannya. Mereka merasakan keadilan dan keobjektifan dalam nilai yang mereka dapatkan. Dengan adanya akuntabilitas dan transparansi nilai, maka tidak akan ada manipulasi nilai pada saat siswa kelas XII akan mendaftar ke PT/Universitas.
Guru Anti Korupsi adalah guru yang mengarusutamakan kejujuran dalam tingkah laku dan proses pembelajarannya. Mereka tidak mengijinkan kecurangan dalam pelaksanaan tes-tes harian dan ujian. Mereka juga sangat menghargai siswa karena kejujurannya bukan karena nilai yang diperolehnya. Mereka mengutamakan proses bukan hasil. Karena mereka yakin, hasil yang baik merupakan akibat pasti dari suatu proses yang baik pula.
Adakah guru-guru ini di sekitar kita? Pasti ada. Mereka berhak menyandang sebutan Guru Model Anti Korupsi atau Guru Berprestasi dalam Karakter. Merekalah teladan siswa dalam kejujuran, karakter dan integritas. Bila siswa dibimbing oleh guru-guru yang berkualitas, maka UN tidaklah lagi menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Penulis yakin, Guru Model Anti Korupsi dapat menginspirasi para siswa juga rekan sejawatnya. Merekalah ujung tombak untuk membawa bangsa ini bangkit dari jeratan perilaku korup di semua bidang kehidupan.

Wallohu a’lam bishshowab

Komentar

Postingan Populer