MENGIKAT MAKNA LEWAT AKSARA*
“Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang Menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al
‘Alaq : 1-5)
“Nun, demi kalam dan apa yang mereka
tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.(Al
Qalam : 1-2)”
Kata literasi baru
mulai sering disebut dalam beberapa tahun terakhir. Sejak tahun 2013,
pemerintah mencanangkan program Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan
kemampuan literasi siswa. Tapi apakah yang dimaksud dengan literasi masih
banyak yang belum memahaminya.
Dalam Islam
sendiri, gerakan literasi sudah dibumikan oleh Rasulullah SAW sejak pertama
beliau diutus menjadi Nabi. Perintah membaca dan menulis yang telah tertera
dalam surat Al ‘Alaq dan Al Qalam, dapat mengubah suatu kaum yang jahiliyah
menjadi pemimpin dunia selama berabad-abad. Sayang sekali kini, ajaran mulia
ini kurang diperhatikan oleh umat Islam. Al hasil umat Islam menjadi
terbelakang dalam kancah peradaban dan perpolitikan dunia.
Menurut
Al-Maraghi, berdasarkan isi dari surah Al-Alaq dari ayat satu hingga ayat ke
lima Al-Quran telah merubah suatu bangsa yang sangat rendah menjadi bangsa yang
mulia dengan perantara keutamaan kalam. Jika tidak ada tulisan, tentu
pengetahuan tidak terekam, agama akan sirna dan keberadaan suatu bangsa tidak
tercatat dalam sejarah.
Dalam
sejarah perjuangan Indonesia, tulisan Ki hajar Dewantara Alks in Netherland
Was mampu menggugah parlemen Belanda untuk mengakhiri politik tanam
paksanya di Indonesia. Potongan sepenggal isi tulisannya antara lain, "sekiranya
aku orang belanda (kalau aku orang belanda) aku tidak akan merayakan
pesta" di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya".
Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan
ia diasingkan ke Belanda, dan ia kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan
bernama Taman Siswa setelah kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan RA
Kartini, kiprah beliau dalam pendidikan tidak akan pernah kita kenal bila
beliau tidak menulis surat kepada sahabatnya JA Abendanon. Orang Belanda inilah
yang dikemudian hari mengumpulkan surat-sura Kartini dan menerbitkannya sebagai
buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Manfaat
Menulis
Menulis dan berbicara adalah
dua bentuk cara guru berkomunikasi dengan peserta didik. Guru menulis intisari
atau pokok-pokok materi pembelajaran di papan tulis. Selain itu, jauh sebelum
melaksanakan kegiatan pembelajaran, guru telah menulis aneka
macam perangkat pembelajaran. Selain itu, guru juga perlu membuat bahan ajar
berupa slide, modul, Lembar kerja atau diktat mata pelajaran ataupun Buku Mata
Pelajaran. Jadi memang kegiatan tulis menulis merupakan kegiatan keseharian
guru.
Adapun manfaat menulis sangat
banyak. Berikut beberapa di antaranya:
1.
Menulis itu menyehatkan
2.
Menulis dapat meningkatkan kepercayaan
diri guru
3.
Menulis
dapat mencegah kepikunan
4.
Dengan
menulis secara kontinyu, berarti seorang guru telah mengedukasi masyarakat.
5.
Menulis
dapat menambah pemasukan
6.
Menulis
dapat meningkatkan kecerdasan atau intelektualitasnya.
7.
Menulis adalah bentuk investasi di hari tua.
8.
Mendorong untuk banyak membaca
9.
Memiliki Wawasan Luas
10.
Membuat Buku Bahan Ajar sendiri.
11.
Mengikat Ilmu Pengetahuan
12.
Menulis dapat memperoleh nilai kredit (credit point) bagi profesi guru.
13.
Menulis dapat melatih Kemampuan Berbahasa Indonesia
14.
Mengangkat Harkat dan Martabat Bangsa.
15.
Menginspirasi para peserta didik
Dari Mana Kita
Mulai ?
Seorang penulis 25 buku menyebutkan resiko menjadi penulis adalah
menjadi Kaya, Kaya Hati, Kaya Imajinasi, dan Kaya Materi. Bagi para pendidik
yang ingin kaya tentu saja menjadi penulis merupakan pilihan yang sangat
menggiurkan.
Ada beberapa cara memulai menulis yang sudah dilakukan oleh banyak
orang.
1.
Menulis Diary
2.
Menulis di majalah dinding, bulletin atau
majalah sekolah
3.
Menulis di media sosial seperti FB, Whatsappt,
twitter,dan wattpad.
4.
Menulis di Blog pribadi atau Blog Komunitas
5.
Menulis secara rutin sehari minimal 300 kata
atau 1 halaman A4 dengan font Arial, TNR, atau calibri 12 dengan jarak 1,5
spasi.
Apa yang ditulis ?
Banyak hal yang bisa dijadikan bahan tulisan, antara lain :
1.
Apa
yang kita rasakan, kita dengar dan kita lihat
2.
Apa
yang kita alami
3.
Ide,
gagasan, solusi suatu masalah
Bahan-bahan
tulisan ini merupakan hasil penangkapan makna tersirat oleh kita. Misal,
seorang alumni 411 atau 212 bisa menuliskan pengalamannya selama mengikuti
gerakan ini. Menceritakan kembali apa yang dirasa, dilihat dan didengar selama
kegiatan. Bahkan juga bisa menambahkan hasil yang didapat setelah mengikti
gerakan ini bagi pribadinya, keluarga bahkan umat. Inilah yang dimaksud dengan
mengikat makna. Apa yang kita alami dan kita rasakan, belum tentu dialami oleh
orang lain. Bisa jadi story telling ini bisa menginspirasi banyak orang
bahkan membuat sebuah perubahan bagi masyarakat.
Bertegur sapa
dengan siswa, mengajar di kelas, serta hambatan dan tantangan selama mendidik
akan menjadi pelajaran berharga bagi guru-guru lainnya. Tulisan yang diisi
dengan fakta dan pengalaman nyata penulis akan jauh lebih berkesan bagi
pembaca. Jadi, semua kejadian di sekitar kita merupakan bahan untuk tulis.
Bahkan patah hati bagi seorang penulis bisa berbuah royalti, kesulitan menjadi
orang tua bisa menghasilkan buku-buku best seller dan menginspirasi
jutaan orang. Catatan yang tidak boleh dilupakan adalah penulis perlu mengolah
dengan cermat, meramu dengan masak agar semua bahan yang dimilikinya mampu
menggugah bahkan menghipnotis pembaca.
Demikianlah, pendidik penggiat
literasi merupakan seorang inspirator. Tulisannya tidak hanya akan bermanfaat
bagi dirinya namun juga banyak orang. Ia hidup lebih lama dari usianya. Ilmu
yang ditulisnya menjadi amal jariyah hingga yaumil Akhir, Insya Alloh.
“Kalau kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak seorang
ulama besar, maka jadilah penulis”._ Imam Al Ghazali
“Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi
tulisan bisa menembus jutaan kepala.” Sayyid Qutb
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama
ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis
adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer
Wallohu a’lam bishshowab
DAFTAR PUSTAKA
http://www.kompasiana.com/pewarisnegri/10-alasan-mengapa-guru-harus-menulis_54f3ccb9745513a12b6c7f0b
* Disampaikan pada Seminar Pendidikan Menumbuhkan Budaya Literasi
YAPIDH, Bekasi, 13 Mei 2017


Komentar
Posting Komentar