Kecerdasan Majemuk, Potensi Individu Yang Belum Tergali


kecerdasan majemuk

Sebenarnya tahukah anda apa yang dimaksud dengan cerdas? Bila dibandingkan antara Rudi Hartono, Rudi Chaerudin dan Rudi Hadi Suwarno, siapakah yang menurut anda paling cerdas ? Saya yakin anda akan sulit memilihnya. Hal ini disebabkan karena mereka memang dikenal cerdas pada bidang-bidang yang berbeda.Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia. Kecerdasan dijadikanNya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus. 

Intelegensi atau kecerdasan merupakan kemampuan untuk mengolah informasi dan keterampilan yang diperlukan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Teori baru telah menunjukkan bahwa kecerdasan berdimensi majemuk. Kecerdasan adalah salah satu bagian dari range yang luas pada keterampilan kognitif, seperti persepsi, belajar, memori, memecahkan masalah, dan bernalar. Teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner yang kita kenal dengan kecerdasan majemuk, telah teruji secara empiris di dalam kelas. Teori ini juga didukung temuan-temuan di bidang neuro science tentang fungsi otak kanan dan otak kiri, adalah teori baru yang layak dijadikan landasan teori untuk membuat kategori kecerdasan siswa.

Gardner telah mengidentifikasi kecenderungan kecerdasan manusia menjadi sembilan jenis, yaitu linguistik, logiko-matematikal, musikal, spasial-visual, kinestetik-jasmani, intrapersonal, interpersonal, naturalis, dan spiritual atau eksistensial. Orang yang kurang cerdas di bidang logiko-matematikal mungkin cerdas luar biasa di bidang musik, mungkin kinestetik, mungkin spasial-visual. Sementara identifikasi kecerdasan anak yang didasarkan pada skor IQ, notabene hanya mengukur kecerdasan logika-matematikal dan sedikit linguistik. Oleh karena itu, identifikasian kecerdasan luar biasa yang hanya ditentukan berdasarkan skor IQ hanya mengukur dua dimensi saja. 

Kecerdasan majemuk dari teori Gardner tersebut yaitu :
kecerdasan linguistic atau verbal, merupakan kecerdasan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dengan memakai bahasa untuk mengekspresikannya.

kecerdasan visual-spasial merupakan kemampuan berpikir dalam tiga dimensi, mengubah dan memodifikasi bayangan, mengendalikan diri sebagai obyek yang berada dalam suatu ruangan. Ciri yang dimiliki seperti belajar dengan melihat, mengamati, mengenali bentuk, warna dan pemandangan. 

Gambar atau media visual lainnya efektif menjadi pengingat informasi. kecerdasan logika matematika merupakan kecerdasan dalam menghitung, mengukur, mempertimbangkan, hipotesis dan analisa. Kecerdasan kinestetik merupakan kemampuan untuk menggerakkan obyek dan keterampilan fisik
kecerdasan musik, merupakan sensivitas terhadap titi nada, melodi, ritme, nada dan apresiasi terhadap seni. kecerdasan interpersonal, kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain secara efektif dan hubungan sosial. kecerdasan intrapersonal, kemamampuan membuat persepsi akurat tentang diri sendiri, kesadaran emosi diri dan daya juang untuk mencapai tujuan. Kecerdasan naturalis, kemampuan untuk mempelajari ekosistem di alam dan lingkungan.

Jadi sebenarnya berdasarkan teori Gardner kita memiliki potensi kecerdasan beragam tetapi belum kita sadari. Mungkin saja anda yang tidak hanya memiliki kecerdasan logiko-matematik seperti yang telah dibuktikan dengan prestasi anda di sekolah, tetapi anda memiliki kecerdasan naturalis yang tinggi. Atau anda yang cerdas dalam bermusik, mungkin juga cerdas dalam interpersonal. Oleh sebab itu benarlah pesan Muhammad SAW supaya manusia selalu belajar dari buaian hingga liang lahad. Dengan belajar sepanjang hayat kita akan selalu bisa menggali potensi diri. 

Mungkin selama belajar di sekolah kecerdasan linguistic atau kecerdasan emosi kita kurang tergali, maka setelah selesai sekolah tugas kita selanjutnya untuk terus belajar. Jangan diartikan bahwa belajar harus membaca buku atau menghafal rumus. Belajar yang paling aplikatif adalah learning by doing, belajar dari pengalaman. Bila potensi yang telah Allah SWT berikan pada kita tidak sempat tergali karena kemalasan kita, bukankah sama saja dengan kurang bersukur ? 

Yang terakhir ada pesan dari perumus kecerdasan majemuk Howard Gardner . Dia menyatakan “BUKAN SEBERAPA CERDAS ANDA TETAPI BAGAIMANA ANDA MENJADI CERDAS ! ”. 
Wallohua’lam Bishshowab.

Referensi : Dari berbagai sumber

Komentar

Postingan Populer